wb_sunny

Breaking News

Telah Dibuka Pendaftaran Inden SMP Pondok Pesantren Tahfidz Global Jakarta Beasiswa Penuh Sampai Lulus Call/WA 0813-2248-2220 | Pesan Kue dan Catering untuk Acara atau Hajatan Daerah Depok dan Jakarta WA Mr Gajah 0895-0136-6671 | Desain dan Cetak Kebutuhan Bisnis Anda, Kami Kerjakan dan Hasilnya Dikirim ke Alamat Anda WA 0895-3505-29794 | Bisnis Anda Ingin Tampil Di SIni dan Dikenal Lebih Luas di Jakarta dan Sekitar? Iklankan di Sini Sekarang! Hubungi Kita di media@medianetwork.my.id | 081288284898

Rizki Ulfahadi Sebut Aktivisme Mahasiswa Harus Melahirkan Gerakan Produktif dan Solutif

Rizki Ulfahadi Sebut Aktivisme Mahasiswa Harus Melahirkan Gerakan Produktif dan Solutif


JKT.NEWS --
Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) Rizki Ulfahadi menegaskan bahwa aktivisme mahasiswa tidak boleh berhenti pada kesibukan organisasi. Aktivisme harus bergerak lebih jauh dengan melahirkan gerakan yang produktif, solutif, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Penekanan tersebut disampaikan Rizki dalam Forum Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali di Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (7/8/2026).

Dalam forum penguatan orientasi kader menuju kepemimpinan masa depan itu, Rizki memperkenalkan Core Values GMH yang dirangkum dalam akronim SIAP, yakni Spiritualitas, Intelektualitas, Aktivisme, Pemberdayaan, dan Pengabdian. Lima nilai tersebut diposisikan sebagai rangkaian pembentukan kader, bukan sekadar identitas organisasi.

"Core Values GMH kami rumuskan dalam akronim SIAP. Kader GMH harus memiliki spiritualitas yang kuat, intelektualitas yang unggul, aktivisme yang produktif, semangat pemberdayaan, dan seluruh proses itu bermuara pada pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan," kata Rizki.

Ia menjelaskan, spiritualitas menjadi pijakan moral agar aktivitas kader berorientasi pada ibadah. Sementara intelektualitas berfungsi memperkuat kemampuan membaca persoalan, membangun gagasan, dan merumuskan solusi. Pada titik inilah aktivisme dituntut menghasilkan kerja yang terukur, bukan sekadar memperbanyak agenda.

"Mahasiswa tidak cukup hanya aktif berorganisasi atau berprestasi secara akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu, karakter, dan kepemimpinannya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Rizki, aktivisme yang produktif harus berlanjut menjadi pemberdayaan, yakni keberpihakan kepada masyarakat melalui upaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian. Seluruh proses tersebut kemudian bermuara pada pengabdian sebagai orientasi akhir kaderisasi.

"Pengabdian adalah tujuan akhir dari seluruh proses kaderisasi. Sebaik-baik ilmu, kepemimpinan, dan aktivitas adalah yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat," katanya.

Melalui NGL Regional Jawa-Bali, PP GMH mendorong peserta menerjemahkan SIAP dalam kehidupan kampus, organisasi, dan ruang sosial. 

Dengan pendekatan itu, tambahnya, kader diharapkan tumbuh sebagai pemimpin muda Muslim yang memiliki kapasitas intelektual, karakter, kepekaan sosial, serta kemampuan mengubah gagasan menjadi gerakan yang relevan bagi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Tags

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama